Mendidik anak adalah kewajiban orang tua

Mendidik anak merupakan kewajiban bagi kedua orang tuanya, karena anak adalah karunia yang besar yang Allah swt berikan kepadanya. Karunia yang besar ini hendaknya menjadi introspeksi bagi setiap suami dan istri. Dengan introspeksi diharapkan semakin besar rasa syukur kepada illahi rabbi, Allah rabbul izzati. Karena jika orang tua terlena, bisa jadi anak dianggapnya sebagai beban, bukan asset. Padahal dua hal ini sangat jauh berbeda.

  

Anak sebagai beban maka orang tua akan merasa berat untuk memikulnya. Endingnya anak diserahkan ke sekolah tanpa mau tahu apa yang diberikan disekolah. Lebih jauh lagi, orang tua berharap agar anaknya jadi sholih dan sholihah. Ajaib. Satu kata yang mewakili cerita singkat ini. Gara-gara anak menjadi beban, akhirnya orang tua melimpahkan beban itu kepada pihak lain. Naudzubillah. Berbeda dengan anak sebagai asset. Namanya asset pasti menguntungkan. Maka disini orang tua akan bersemangat untuk mendidik anak agar anak menjadi sholih dan sholihah. Orang tua pun akan memilih sekolah dan ustadz terbaik dan penuh kepedulian karena anak asset yang harus dirawat dan dikawal sampai memberikan hasil yang maksimal.

Anak adalah asset yang harus disyukuri, bukan diratapi, apalagi dihujat sana sini. Seperti yang kita bisa dapati. Disamping kanan dan kiri, orang tua mencaci maki. Padahal anaknya sendiri.  Anak adalah asset yang harus disyukuri. Ccobalah lihat tetangga kanan kiri dan bahkan sanak family, ada yang belum diberi amanah dari yang Maha Menghendaki. Maka dari itu mari disyukuri. Sebagaimana janji Allah swt “Sesungguhnya jika kamu bersyukur , sesungguhnya Aku (Allah swt) akan menambah nikmatmu” Qs Ibrahim : 7. Dengan syukur ini, insyallah, Allah swt akan menambah keberkahan dalam hidup kita dan memudahkan kita dalam mendidik buah hati kita.

Al Hasan Al Basri pernah mengajarkan do’a bagi orang yang baru mendapatkan momongan. Do’anya adalah sebagai berikut :
“Semoga Allah swt memberkatimu dengan kelahiran anakmu. Semoga engkau bersyukur kepada tuhan yang telah menganugerahkannya. Semoga engkau mendapat anak yang shalih dan semoga anakmu tumbuh menjadi dewasa” (Tahapan mendidik anak teladan Rasulullah Saw, hal 69 karya Jamaal Abdur Rahman yang dikutip dari kitab Tuhfaul Maudud  karya Ibnul Qoyyim). 

Dalam do’a tersebut terdapat empat point penting, salah satunya yaitu mendo’akan agar yang dikarunia momongan bersyuur kepada Allah swt. Maka sekali lagi, syukur ini penting. Bersyukurlah berapapun momongan yang Allah swt berikan kepada anda saat ini.
Setelah bersyukur atas karunia Allah swt, maka selanjutnya kewajiban ayah bundanya, mendidik anak dengan sebaik-baiknya. Mengapa demikian? Sebagaimana di dalam Al Qur’an terdapat sebuah ayat Qs At Tahriim : 66
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu”

Mengenai hal ini, Ali Bin Abi Tholib mengatakan “ajarilah diri kalian dan keluarga kalian kebaikan”. Ini artinya bahwa cara agar terhindar dari api neraka yang paling jitu yaitu dengan mengajari kebaikan kepada keluarga, termasuk anak. Maka pendidikan dan pengajaran untuk diri kita dan anggota keluarga kita menjadi penting. Termasuk mendidik anak kita. Maka kewajiban mendidik itu sebenarnya berada ditangan kedua orang tua dan kedua orang tuanyalah yang berperan penting membentuk anaknya. Hal ini sebagaimana yang telah Rasulullah saw sabdakan bahwa “setiap anak itu dilahirkan menurut fitrahnya, maka hanya kedua orangtuanyalah yang akan menjadikannya seorang yahudi, seorang nasrani, atau seorang majusi” Hr Bukhari, Ibnu Hiban dan Baihaki. Maka semakin teranglah bahwa mendidik anak menjadi kewajiban kedua orang tua dan masa depan anak berada ditangan kedua orang tuanya. 

Dalam hadits lain Rasulullah Saw bersabda “tiada suatu pemberian yang lebih utama dari orang tua kepada anaknya, selain pendidikan yang baik” Hr Hakim, Tirmidzi, dan Musnad Ahmad. Maka kado terbaik bagi anak adalah pendidikan yang baik. Hal ini telah banyak dicontohkan oleh para ulama’ zaman dahulu. Kita mengenal Imam Nawawi, seorang ulama besar penulis kitab Riyadus Sholihin. Beliau dididik oleh ayahnya untuk menjadi ulama’, meskipun ayahnya seorang pedagang. Ini memberikan hikmah bahwa pendidikan kepada anak memang menjadi kewajiban orang tua, namun orang tua dapat menentukan siapa yang nanti akan menjadi guru atau Ustadz bagi anaknya.

Begitu juga dengan Ibunda Imam Syafi’i. ibundanya memilihkan ulama ternama dikala itu yang tinggal jauh dari tempat kelahiran Imam Syafi’i. namun Ibunda Imam Syafi’I tahu kepada siapa Imam syafi’I harus belajar, maka ditempuhlah perjalanan yang jauh itu untuk mendapatkan ilmu. Hasilnya, Imam syafi’I menjadi ulama’ yang kuat hujjahnya dan menjadi ulama yang terkenal dengan madzhab yang dikenal dengan madzhab syafi’i. Begitu juga dengan Ibunda Anas ra. Beliau menitipkan Anas kepada Rasulullah saw ketika usia Anas masih kecil. Disini terkandung hikmah yang besar, kita dapat belajar bahwa Ibu Anas memilih Guru yang tepat untuk anaknya dan Ibu Anas tahu seperti apa yang diharapkan untuk masa depan anaknya.

Dari pembahasan sederhana ini dapat kita ambil kesimpulan bahwa mendidik anak menjadi kewajiban bagi orang tua, maka orang tua harus bersyukur dan jika orang tua hendak mencarikan Guru / Ustadz atau sekolah untuk anak-anaknya, maka orang tua harus memilih guru/ Ustadz atau sekolah yang tepat. Lebih lanjut, orang tua juga harus punya harapan untuk masadepan anakknya.

Terakhir, dalam kitab Imam Nawawi sebagaimana dikutib dalam buku “Prophetic Parenting” Dr. Muhammad Nur mengisahkan tentang do’a Nabi Dawud As. Nabi Dawud As berdo’a, “wahai tuhanku perlakukanlah putraku seperti engkau memperlakukanku”. Setelah itu Allah Subhanahuwata’ala mewahyukan “Wahai Dawud, katakahlah kepada putramu agar memperlakukan-Ku sama seperti engkau memperlakukan-Ku, niscaya Aku akan memperlakukannya seperti Aku memperlakukanmu”. Allahuakbar… kita dapat mengambil hikmah dari kisah Nabi Dawud as ini bahwa memang orang tua memiliki kewajiban untuk mengajari anaknya. Salah satu yang harus diajarkan yaitu tentang pemahaman agama ini, karena agama inilah bekal dunia dan akhirat. Semoga bermanfaat dan semoga Allah swt memberikan keberkahan untuk kita semua. Aamiin. Wallahualam bishowaf…
 
Ditulis Oleh Derit VIkiyono
Previous
Next Post »

Info bermanfaat

Adab Sebelum Ilmu

Adab Sebelum Ilmu