Selamatkan anak-anak kita

Banyak orang tua yang rela begitu saja memberikan setiap apa yang diminta oleh anaknya. padahal tidak semuanya memberikan nilai edukasi kepadanya. tapi apa daya orang tua juga sibuk mengurus pekerjaan dan sosialitanya. maka anak tumbuh dan berkembang sesuai dengan keinginan bukan pada prioritas kebutuhan. lalu, apa masalahnya?
masalahnya ada pada jiwa anak. Yaa.. jiwa anak yang dibesarkan dengan semata mata dicukupi keinginannya dengan memberinya uang, akan sangat lemah, sebab yang dia tau adalah hasil dari rengekannya adalah uang. sangat cepat dan itulah yang diketahui anak, yaitu mendapatkan duit dengan cara yang instan.
anak-anak yang mengenali dirinya sebagai orang yang sangat mudah mendapatkan uang, karena berdasar pengalamnnya cukup dengan rengekan kepada orang tuanya, kelak akan menyimpulkan bahwa mencari uang itu mudah saja, tidak perlu usaha, tidak perlu merepotkan diri dengan aktifitas yang berat atau berliku. bahkan jika pada saatnya nanti dia mendapati orang tuanya tidak memberikan apa yang dia minta dia akan berkesimpulan bahwa orang tuanya memang sengaja menghalangi dirinya dan dengan itu orang tuanya dia simpulkan tidak lagi sayang pada dirinya atau yang semisalnya itu, lantas dia akan pergi mencari komunitas yang memudahkan dirinya untuk mendapatkan apa saja yang dia inginkan.
makanya sering kita dapati pelaku kejahatan itu juga masih berusia remaja, kenapa? karena jiwanya kosong, tidak siap bersabar, tidak berpikir panjang sebab selama ini dia dapati apa saja yang diinginkan, tidak terkecuali jika dia saat remaja ingin lebih dari yang dia punya maka dia tidak segan-segan mencari jalan pintas yaitu mencuri, menjambret, membunuh dan sebagainya.
ini juga bukan berarti orang tua tidak memberi apa saja yang diminta anak, tetapi orang tua sebaiiknya memberikan rasionalisasi pada permintaan anak, sehingga anak bisa menyimpulkan dengan benar manakala orang tua tidak mengabulkan permintaannya. orang tua juga perlu memberikan rasionalisasi sebab-sebab orang tua mempunyai uang, sehingga anak-anak bisa berpikir dengan logis dan benar manakala orang tuanya tidak memiliki uang atau mempunyai uang.
Ada beberapa kejadian yang sering kali dipersepsi salah oleh anak, diantaranya yaitu ketika kita ambil uang di ATM maka anak-anak seringkali mempersepsikan bahwa uang selalu ada disaat kita pergi ke ATM. sehingga anak-anak kadang mengatakan "kalau uang habis ya ambil saja di ATM". Nah, logikanya bisa bener bisa salah, anak harus mendapatkan penjelasan bahwa uang di ATM itu harus diisikan juga agar bisa diambil.
Ketika mendapatkan uang lebaran dari orang lain saat bertamu dihari raya begini. anak sering mempersepsikan bahwa sillaturrahim adalah untuk mendapatkan uang. memang sepele nampaknya, tapi jika tidak segera diberi penjelasan yang logis dan benar, anak akan berpikir yang salah, sehingga anak ada yang berkata "ayo sillaturrahim biar dapat uang". Apalagi jika dia tidak melihat orang tuanya atau dirinya sendiri berbagi uang kepada orang lain, maka kesimpulan bisa salah, yaitu orang harus memberi dan dirinya harus sebagai penerima.
Ketika orang tua berangkat bekerja seringkali dikatakan bahwa "ayah mau bekerja cari uang" atau neneknya kadang menanyai "ayah kerja cari apa nak? cari uuu uuuang... buat beli apa? buat beli jaa jaan.." nah memang tidak semuanya salah, namun bisa juga salah dalam pendidikan anak kita, sebab anak mempersepsikan kerja untuk uang itu menggeser maksud kerja dalam islam yakni untuk ibadah dan bersyukur. ketika kerja untuk ibadah ini tidak tertanam di jiwa anak, maka kelak dia bisa menjadi manusia sekuler, semata-mata bekerja itu untuk uang. sehingga begitu mereka dewasa dan bekerja, orientasi kerjanya semata untuk uang.
maaf, ini hal-hal sepele yang kadang kita kurang cermat dalam menjelaskan kepada anak, sehingga tanpa sadar kita pun andil dalam merusak pola pikir fitrah anak yang tauhidi. sekali lagi maaf ... ini bukan bermaksud menggurui, semoga ada yang bermanfaat.
Previous
Next Post »

Info bermanfaat

Adab Sebelum Ilmu

Adab Sebelum Ilmu